ADSENSE HERE!
Tujuan Laporan Keuangan
Menurut SFAC
(Statement of Financial Accounting) nomor 1 dinyatakan bahwa pelaporan keuangan
harus menyajikan informasi yang :
1. Berguna
bagi investor dan kreditur yang ada dan yang potensial dan pemakai lainnya
dalam membuat keputusan untuk investasi, pemberian kredit dan keputusan
lainnya.
2. Dapat
membantu investor dan kreditur yang ada dan yang potensial dan pemakai lainnya
untuk menaksir jumlah, waktu dan ketidakpastian dari penerimaan uang di masa
yang akan datang.
3. Menunjukkan
sumber ekonomi dari suatu perusahaan, klaim atas sumber-sumber tersebut dan
pengaruh dari transaksi-transaksi, kejadian-kejadian dan keadaankeadaan yang
mempengaruhi sumber-sumber dan klaim atas sumber-sumber tersebut.
Ketiga karakter
informasi di atas merupakan pedoman untuk penyusunan pelaporan keuangan.
Tujuan akuntansi
keuangan dan laporan keuangan ada dua yaitu : tujuan umum dan tujuan
kualitatif.
Tujuan Umum :
1. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat
dipercaya mengenai sumber sumber ekonomi dan kewajiban serta modal suatu
perusahaan.
2. Untuk
memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam
sumber-sumber ekonomi netto (sumber dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang
timbul dari aktivitas usaha dalam rangka memperoleh laba.
3. Untuk
memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan di dalam
mengestimasikan potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
4. Untuk
memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam sumbersumber
ekonomi dan kewajiban seperti informasi mengenai aktivitas pembelanjaan dan
penanaman.
5. Untuk
mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan
keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan, seperti informasi
mengenai kebijaksanaan akuntansi yang dianut perusahaan.
Tujuan
Kualitatif :
1. Relevan
Relevansi suatu
informasi harus dihubungkan dengan maksud penggunaannya.
2. Dapat
dimengerti
Informasi harus
dapat dimengerti oleh pemakainya, dan dinyatakan dalam bentuk dan istilah yang
disesuaikan dengan batas pengertian para pemakai.
3. Daya Uji
Informasi harus
dapat diuji kebenarannya oleh para pengukur yang independen dengan menggunakan
metode pengukuran yang sama
4. Netral
Informasi harus
diarahkan pada kebutuhan umum pemakai dan tidak bergantung pada kebutuhan dan
keinginan pihak-pihak tertentu.
5. Tepat waktu
Informasi harus
disampaikan sesegera mungkin untuk dapat digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan
6. Daya banding
Informasi dalam
laporan keuangan akan lebih berguna bila dapat dibandingkan dengan laporan
keuangan periode sebelumnya.
7. Lengkap
Informasi
akuntansi yang lengkap meliputi semua data akuntansi keuangan yang dapat
memenuhi secukupnya enam tujuan kualitatif di atas.
Asumsi Dasar Akuntansi
Sebagai suatu
sistem, maka di dalam akuntansi dikenal beberapa dasar anggapan (asumsi). Ada
10 asumsi dasar akuntansi menurut Paul Grady (AICPA) yaitu:
1. Suatu
masyarakat dan susunan pemerintahan yang menjamin hak milik pribadi (A Society
and Government Structure honering property right)
2. Kesatuan
usaha yang spesifik (Specific Business Entities)
3. Kontinuitas
Usaha (Going Concern)
4. Penggunaan
unit moneter di dalam rekening-rekening (Monetary Expression in Accounts)
5. Konsistensi
antara periode-periode untuk kesatuan usaha yang sama (Consistency between
periods for the same entity)
6. Perbedaan
dalam akuntansi di antara kesatuan-kesatuan yang bebas (Diversity in Accounting
among independent entities)
7. Konservatif
(Conservatism)
8.
Ketergantungan data dari pengendalian intern (Dependability of data through internal
control)
9. Cukup berarti
(Materiality)
10. Batas waktu
dalam penyusunan laporan keuangan membutuhkan taksiran-taksiran (Timeliness in
financiall reporting requires estimates)
Dari ke-10
asumsi dasar tersebut di atas, yang paling lazim dipakai sebagai sebagai asumsi
dasar yang mendasari struktur akuntansi adalah :
- Kesatuan Usaha
Khusus (Separate Entity/Economic Entity)
Dalam konsep ini
perusahaan dipandang sebagai sebagai suatu unit usaha yang berdiri sendiri, terpisah
dari pemiliknya.
- Kontinuitas
Usaha (Going Concern/Continuity)
Asumsi ini
menganggap bahwa suatu perusahaan itu akan hidup terus, dalam arti diharapkan
tidak akan terjadi likuidasi di masa yang akan datang.
- Pengunaan Unit
Moneter dalam pencatatan
Asumsi ini
menganggap mata uang adalah alat pengukur yang stabil
- Tepat Waktu
(Time-Period/Periodicity)
Kegiatan
perusahaan berjalan terus antar periode menimbulkan masalah pengakuan dan
pengalokasian ke dalam perode-periode tertentu di mana dibuat laporan keuangan,
untuk itu laporan keuangan harus dibuat tepat pada waktunya.
Prinsip Dasar Akuntansi
Konsep dasar
yang mendasari penyusunan prinsip akuntansi adalah sebagai berikut :
1. Prinsip Biaya
Historis (Historical Cost Principle)
Prinsip ini menghendaki
digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva, utang, modal dan biaya.
2. Prinsip
Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle)
Prinsip ini
menyangkut cara penentuan pendapatan berkala, yang dapat memenuhi kebutuhan
untuk penyusunan laporan keuangan yang tepat pada waktunya.
3. Prinsip
Mempertemukan (Matching Principle)
Untuk menyusun
laporan keuangan periodik pendapatan yang diperoleh atau terjadi dalam periode
akuntansi tertentu harus dipertemukan secara layak dengan biaya-biaya yang
terjadi dalam periode akuntansi yang sama.
4. Prinsip
Konsistensi (Consistency Principle)
Agar laporan
keuangan dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, maka metode dan
prosedur-prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara
konsistendari tahun ke tahun.
5. Prinsip
pengungkapan penuh (Full Disclosure Principle)
Yang dimaksud
dengan prinsip ini adalah menyajikan informasi yang lengkap dalam laporan
keuangan.
Untuk mendownload materi diatas klik link dibawah ini.
DOWNLOAD file WORD
DOWNLOAD file PDF
ADSENSE HERE!

No comments:
Post a Comment